Pages

Selasa, 28 September 2010

Nasehat Nan Penuh Kenangan dari Rasulullah S.A.W

penulis Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsary
Syariah Hadits 05 - Juli - 2003 07:46:12

Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yg mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dgn satu nasihat yg menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. mk ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah nasihat ini seperti nasihat orang yg mau mengucapkan selamat tinggal krn itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:

u wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah utk mendengar dan taat walaupun yg memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yg masih hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yg banyak. Karena itu wajib atas kalian utk berpegang dgn sunnahku dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yg mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dgn gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru krn tiap perkara baru itu sesat.”

Penjelasan Hadits

Al Hafidz Abu Nu‘aim berkata: “Hadits ini jayyid termasuk hadits yg shahih dari periwayatan orang2 Syam.” Beliau juga mengatakan: “Al Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits ini bukan krn mengingkarinya.”

Al Hakim menyatakan Al Bukhari dan Muslim meninggalkan penyebutan hadits ini disebabkan anggapan yg keliru dari kedua bahwa tdk ada seorang rawi pun yg meriwayatkan dari Khalid bin Ma‘dan kecuali Ats Tsaur bin Yazid padahal sebenar ada perawi lain yg meriwayatkan dari Khalid seperti Buhair bin Sa‘ad Muhammad bin Ibrahim At Taimi dan selain keduanya.

Namun pernyataan Al Hakim ini dijawab oleh Al Hafidz Ibnu Rajab: “Sebenar hal ini tidaklah seperti persangkaan Al Hakim. Adapun Al Bukhari dan Muslim tdk mengambil hadits ini krn hadits ini tdk memenuhi syarat mereka berdua di dlm kitab shahih di mana Al Bukhari dan Muslim sama sekali tdk mengeluarkan dlm shahih riwayat dari Abdurrrahman bin Amr As Sulami dan dari Hujr Al Kala`i. Dan juga dua orang rawi yg disebut ini tidaklah terkenal dlm keilmuan dan periwayatan hadits.”

Adapun Abdurrahman As Sulami salah seorang perawi dlm hadits ini mk ia masturul hal walaupun telah meriwayatkan dari jama‘ah namun tdk ada seorang alim yg mu‘tabar yg men-tsiqah-kan . Ibnul Qaththan Al Fasi mendha’ifkan hadits ini krn hal tersebut.

Demikian pula dgn Hujr bin Hujr Al Kala‘i tdk ada yg meriwayatkan dari kecuali Khalid bin Ma‘dan dan tdk ada seorang alim yg mu‘tabar yg men-tsiqah- kan sehingga ia dinyatakan majhulul ‘ain . Berkata Ibnul Qaththan: “Orang ini tdk dikenal.” Namun sebagaimana kata Al Imam Al Hakim di atas hadits ini diriwayatkan juga dari selain mereka berdua dan disebutkan jalan-jalan yg saling menguatkan satu dgn lain oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dlm kitab Jami’ul ‘Ulum mk hadits ini hasan. Penghasanan hadits ini dinyatakan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi‘i rahimahullah walaupun ada sebagian ulama yg menshahihkan sehingga mereka bersepakat bahwa hadits ini bisa dijadikan sebagai hujjah kecuali Ibnul Qaththan Al Fasi yg mendha’ifkan hadits ini.
.

Kandungan Hadits

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya :
“Berilah nasihat kepada mereka dan katakanlah kepada mereka ucapan yg bisa dipahami mengena dan menancap di jiwa-jiwa mereka.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki sifat selalu memberikan bimbingan kepada jalan yg lurus terhadap siapa saja dari kalangan umat sehingga ketika para sahabat meminta agar beliau memberikan nasihat mk beliau pun memenuhi diiringi dgn hikmah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyampaikan nasihat senantiasa memilih kata-kata yg tepat lafadz yg indah mengena di hati dan menancap dgn dalam. Beliau tdk menyampaikan nasihat dgn kalimat yg panjang lagi bertele-tele namun cukup dgn kalimat yg ringkas namun mencakup dan dimengerti. Karena itulah beliau dikenal oleh para sahabat sebagai orang yg memiliki jawami`ul kalim . Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Aku diutus dgn jawami‘ul kalim.”

‘Ammar bin Yasir radliallahu anhu pernah menyampaikan khutbah dgn ringkas dan dipenuhi dgn kata-kata yg tepat ibarat yg indah dan menancap di hati. Seusai khutbah ada seseorang yg menegurnya. mk ‘Ammar pun menanggapi dgn jawaban yg tepat: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguh panjang shalat seseorang dan ringkas khutbah merupakan tanda kefaqihannya. Karena itu panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah. Sesungguh di antara penyampaian dan ucapan ada yg membuat orang tersihir.”

Nasihat yg disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu sangatlah menancap di hati para sahabat hingga hati mereka bergetar dan air mata mereka pun berlinang karenanya. Inilah sifat kaum mukminin tatkala mendengar nasihat dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Hanyalah yg dikatakan orang2 beriman itu adl mereka yg ketika disebut nama Allah bergetar hati-hati mereka.”

“Dan apabila mereka mendengar apa yg diturunkan kepada Rasul engkau akan melihat mereka berlinangan air mata krn apa yg mereka ketahui dari kebenaran.”

Demikianlah nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yg seolah-olah beliau akan pergi meninggalkan mereka dgn memberikan nasihat perpisahan. Sebagaimana yg telah diketahui orang yg akan pergi jauh tdk akan meninggalkan sesuatu yg penting kecuali disampaikan dan dipesankannya.

Setelah mendengar nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam para sahabat pun khawatir mereka tdk akan bertemu lagi dgn Rasulullah setelah sehingga utk menyempurnakan nasihat yg ada mereka meminta wasiat beliau seraya berkata: “Wahai Rasulullah seakan-akan ini nasihat orang yg akan berpisah krn itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun memberikan wasiat di antaranya:

Wasiat utk Takwa kepada Allah

Berkata ahlul ilmi takwa merupakan pokok kebaikan dan inti dari segala perkara. Seluruh seruan kepada pintu kebaikan maupun larangan kepada kejelekan terkumpul dlm kalimat takwa ini.

Takwa ini pula merupakan wasiat Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang2 terdahulu maupun yg belakangan sebagaimana dlm firman-Nya:
“Sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang2 yg diberikan Al Kitab sebelummu dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.”

Kita diperintah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala utk berbekal dengan sebagaimana firman-Nya:
“Berbekallah kalian mk sesungguh sebaik-baik bekal adl takwa.”

Oleh krn itu terkumpul dlm takwa ini kebaikan dunia dan akhirat.

Wasiat utk Mendengar dan Taat

Yang dimaksud dgn mendengar dan taat oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sini adl kepada para pemimpin kaum muslimin krn taat kepada mereka akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dimana dgn mentaati mereka akan baiklah kehidupan orang2 yg dipimpin dan menjadi amanlah negeri di samping juga dapat membantu menegakkan agama mereka.

Hal ini merupakan kewajiban agama krn Allah telah berfirman:
“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasulullah dan kepada pemimpin di antara kalian.”

Kewajiban mendengar dan taat ini tetap berlaku bahkan ketika yg menjadi pemimpin itu seorang budak sekalipun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berpesan: “Tetaplah kalian mendengar dan taat sekalipun yg memimpin kalian itu seorang budak Habasyah yg rambut seperti kismis.”

Al Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah menyatakan bahwa sebagian ulama berkata: “Seorang budak tdk bisa menjadi pemimpin akan tetapi penyebutan pemimpin dari kalangan budak dlm hadits ini hanyalah sekedar permisalan walaupun tdk mungkin terjadi sama hal dgn sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Siapa yg membangun masjid utk Allah walaupun besar hanya seperti sarang burung mk Allah akan membangunkan untuk sebuah rumah di surga.” Dan telah diketahui bahwa ukuran sarang burung tdk mungkin dapat digunakan oleh manusia sebagai masjid akan tetapi di sini hanya didatangkan sebagai permisalan.”

Dimungkinkan pula di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan rusak perkara apabila diserahkan urusan kepada selain ahli sampai akhir kepemimpinan diserahkan kepada seorang budak . Sehingga andaikan permisalan yg disebutkan itu terjadi tetaplah kalian mendengar dan taat terpaksa menempuh kemudharatan yg lbh ringan di antara dua kemudharatan yg ada dgn bersabar atas kepemimpinan seseorang yg sebenar tdk boleh menjadi pemimpin. Yang mana apabila membangkang kepada akan mengantarkan kepada fitnah yg besar.”

Tentu ketaatan kepada pemimpin itu sebatas dlm perkara yg ma‘ruf tanpa melanggar hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala krn Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketaatan itu hanyalah dlm perkara kebaikan.”

Wasiat utk Berpegang Teguh dgn Sunnah

Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Siapa di antara kalian yg masih hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yg banyak. Karena itu wajib atas kalian utk berpegang dgn sunnahku dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yg mendapatkan petunjuk. Gigit/pegang erat-erat sunnah itu dgn gigi geraham kalian.”

Ini merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di mana beliau mengabarkan kepada para sahabat tentang perkara yg akan datang sepeninggal yakni akan terjadi perselisihan yg banyak di kalangan umat beliau. Hal ini sesuai dgn pengabaran beliau bahwasa umat ini akan berpecah belah menjadi 70 lbh golongan semua masuk neraka kecuali satu yg selamat yaitu mereka yg berpegang dgn apa yg dipegangi oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Karena itulah sebagai bahtera penyelamat dari gelombang perselisihan dan perpecahan ini adl berpegang teguh dgn sunnah beliau dan para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Saking kuat keharusan berpegang tersebut hingga diibaratkan seperti menggigit dgn geraham . Ditambahkan oleh Syaikhul Islam bahwa dikhususkan penyebutan geraham dlm hadits ini krn gigitan gigi geraham ini sangat kokoh.

Kata Al Imam As Sindi: “Hal ini menunjukkan keharusan utk bersabar terhadap kepayahan yg menimpa di jalan Allah sebagaimana yg harus dihadapi orang yg sakit terhadap derita yg menimpa dari sakitnya.” .

Adapun sunnah yg dimaksudkan dlm sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini adl jalan hidup beliau yg lurus dan jelas.

Selain mengikuti Sunnah beliau diperintahkan pula setelah utk memegangi sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dan mereka yg dimaksud di sini adl Abu Bakar Umar Utsman dan Ali radliyallahu ‘anhum kata Ibnu Daqiqil `Ied. Para khalifah ini disifatkan dgn krn mereka mengetahui mengenali kebenaran dan memutuskan dengannya. Mereka adl krn Allah telah memberi petunjuk mereka kepada kebenaran dan tdk menyesatkan mereka dari kebenaran tersebut.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggandengkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dgn Sunnah beliau krn para khalifah ini tatkala menetapkan sunnah bisa jadi mengikuti Sunnah Nabi itu sendiri dan bisa pula mereka mengikuti apa yg mereka pahami dari Sunnah Nabi secara global dan rinci yg mana perkara tersebut tersembunyi bagi yg lainnya.
Al Imam Asy Syaukani dlm Al Fathur Rabbani mengatakan: “Sunnah adl jalan yg ditempuh sehingga seakan-akan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Tempuhlah jalanku dan jalan Al Khulafa’ Ar Rasyidin’. Jalan Al Khulafa’ Ar Rasyidin di sini sama dgn jalan Rasulullah krn mereka merupakan orang yg paling bersemangat dlm berpegang dgn Sunnah beliau dan mengamalkan dlm segala perkara. Bagaimana pun keadaan mereka sangatlah berhati-hati dan menjaga diri agar tdk sampai jatuh ke dlm perkara yg menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekalipun dlm perkara yg terbilang kecil terlebih lagi dlm perkara yg besar.”

Beliau kemudian melanjutkan: “Minimal dari faidah hadits ini adl ra`yu yg bersumber dari mereka adl lbh utama dari pendapat orang selain mereka sekalipun ternyata setelah ditinjau kembali hal itu merupakan Sunnah Rasulullah dan juga lbh baik daripada tdk ada dalil.”

Wasiat utk Berhati-hati
dari Bid‘ah

Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:“Hati-hati kalian dari perkara-perkara baru” merupakan peringatan kepada umat beliau dari perkara baru yg diada-adakan lalu disandarkan kepada agama sementara perkara tersebut tdk ada asal sama sekali di dlm syariat ini. Dan beliau tekankan lagi peringatan beliau ini dgn sabdanya: “ krn tiap bid`ah itu sesat”.

Adapun ucapan para ulama yg menganggap baik sebagian bid‘ah mk kembali hal tersebut kepada pengertian bid‘ah secara bahasa bukan bid‘ah menurut syariat. Seperti perkataan Umar radliallahu anhu ketika melihat kaum muslimin shalat tarawih berjamaah dipimpin seorang imam ia berucap: “Sebaik-baik bid‘ah adl perbuatan ini.”

Shalat tarawih berjamaah ini bukanlah bid‘ah dlm pengertian syar‘i krn perbuatan ini telah ada asal dlm syariat di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melakukan bersama para sahabat selama beberapa malam dari malam-malam Ramadhan. Adapun Umar hanya menghidupkan kembali setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tdk melanjutkan pelaksanaan krn khawatir perkara tersebut akan diwajibkan kepada umat beliau sementara mungkin ada di antara mereka yg tdk mampu melaksanakannya.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish shawaab

Sumber: www.asysyariah.com

0 komentar:

Poskan Komentar