Pages

Senin, 18 April 2011

IBU... Ceritakan Aku Tentang Ikhwan Sejati


IBU... Ceritakan Aku Tentang Ikhwan Sejati

Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…

Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya ….

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran… ..


Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya. ..

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…

….setelah itu, ia kembali bertanya…
” Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”
Sang Ibupun memberikan bukunya sambil berkata…. “Pelajari tentang dia…”
ia pun mengambil buku itu
“MUHAMMAD”, judul buku yang tertulis di buku itu…..

Ciri-ciri Akhwat Sejati

Ciri-ciri Akhwat Sejati

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari kecantikan parasnya…
Tetapi dari kecantikan hati yang ada dibaliknya…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona…
Tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari begitu banyaknya dia melakukan kebaikan…
Tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu…


Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya…
Tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari keahliannya berbicara…
Tetapi dari bagaimana caranya berbicara….

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian…
Tetapi dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatannya…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan…
Tetapi dari kekhawatiran dirinya yang membuat orang tergoda…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang dijalani…
Tetapi dari sejauh mana dia menghadapi ujian dengan kesabaran…

Akhwat Sejati…
Bukan dilihat dari sifat supelnya bergaul…
Tetapi dari sejauh mana dia menjaga kehormatannya dalam bergaul…

Kisah Menyentuh Seorang Ibu Tua...

Sayangi Ibu
Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya...

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.


Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Kisah : Doa Seorang Ibu


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis:
“Ya Alloh beri aku calon suami yang baik, yang sholih. Beri aku suami
yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:
“Ya Alloh beri aku anak yang sholih dan sholihah, agar mereka dapat
mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku
yang tidak pernah putus.”


Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir:
“Ya Alloh beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami
yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Alloh….”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah:
“Ya Alloh….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja:
“Ya Alloh jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yg mengkhawatirkanku.
Ya Alloh aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang
sedang ranum.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa:
“Ya Alloh entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholih pada mereka,
yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga
kami.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah:
“Ya Alloh jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan
perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan:
“Ya Alloh mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama
pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria
wibawaku sebagai ibu dari ibunya cucuku.”



Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Alloh tersenyum
dan berkata….. :

“Engkau ingin suami yang baik dan sholih sudahkah engkau sendiri baik
dan sholihah?, Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?”

“Engkau ingin anak yang sholihah, sudahkah itu ada padamu dan pada
suamimu. Jangan egois begitu…… .. masak engkau ingin anak yang sholihah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. …tentu mereka menjadi
sholihah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah
aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?……
prestige? …….. atau….mode? ….atau engkau tidak mau direpotkan
dengan mendidik Islam padanya? engkau juga harus belajar, engkau juga
harus bermoral Islami, engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha
mengkhatamkannya. ”

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu, seolah engkau
tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku. Percayalah
kalau anakmu adalah anak yang sholihah maka yang sepadanlah yang dia
akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu. Aku yang
memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya. Aku tetap
mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia
melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. .. ”

“Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu, berilah
kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi
amanahnya.”

Lantas…… aku malu…… dengan imajinasi do’a-ku sendiri….
Aku malu akan tuntutanku kepada-NYA.. …..

Astaghfirullah hal adziim.....Maafkan aku ya Alloh……

kisah dikirim oleh Robert Xu Jiantou

kisah seorang ibu

Hari ini engkau terlahir ke dunia,
anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan
kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir
dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah
nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan dengan janji Allah
dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar.
Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan’adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran.

Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur…

1981
Tahun
ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun.
Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu.
Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan
gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu.
Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat
keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri
saudarimu yang lain.

1987
Putriku, sungguh aku pantas
bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di
TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri
di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku
Qaulan…Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di
balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan
sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat
kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau
justru sangat agresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun
padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih
suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi
tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering
mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang
membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.
Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu
sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab
pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan
untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar
menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku
mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau
menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa
sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan
kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak
mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya
watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam
menatapku.

Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku
khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku.
Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat
kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak…

1993
Tahun
ini engkau menamatkan SMAmu. Engkau tumbuh menjadi gadis cantik,
periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun
sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota
Kopassus datang mencarimu. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah
tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil
Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan
Islam… Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih
rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda
beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali
itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang
tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka
akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu.

Aku
tidak berhasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa
malamku selalu kebermohon pada Rabbul ‘Izzati agar engkau dipelihara
olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan
makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di
fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup
membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki
dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun
anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba
ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita
adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa
Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah
melulu…Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima
segala argumen dan pemikiranmu,putriku.. Dan aku akan lebih bisa
menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai
masa kuliahmu.

1995
Tahun ini tidak akan pernah
kulupakan. Akan kucatat baik-baik… Engkau putriku, yang selalu
kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah SWT mendengar dan
mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah!
Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak
mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya
yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu
tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela
perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua
tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu?
Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini?
Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau
mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997
Putriku,
kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa
tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau
menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat
saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau
aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah
berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik
suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.
Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang
pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu
tengah menangis dalam sujud malammu…. Selalu kuyakinkan diriku bahwa
akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku…

1998
Putriku,
kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat
beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum
laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu,
diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti
kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa
polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda,
semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau
bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku…

Jika hari
ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata
kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yangengkau
pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku…

1 Agustus 1999
Putriku,
bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat
Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.

Akhir-akhir
ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita
selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban
diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka
bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun.
Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu
para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik
sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika
aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi
sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku.
Putriku….kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan
padamu. Aku percaya padamu… Jika aku memberikan buku ini padamu, itu
karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa
dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku…

Kini hanya
engkau satu-satunya harapanku… Aku percaya perguruan yang telah
kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita
mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan
tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum
kakekmu.

Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama
tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu
lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah
asrama pesantren… Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk
mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang
jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan
kebenaran akan terlahir sebuah fauzan’adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku…

Dalam
diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan
akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim
ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah
menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal ‘Alamiin.

12 Agustus 1999
Rabbi,
jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan
buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama
ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi,
perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya
Engkau..ya Mujib… Happy Birthday to Buya I Love you so much

* * *
14 September 1999

IBU TELADAN DALAM AL-QURAN

IBU TELADAN DALAM AL-QURAN

Di antara taujih Al Qur’an adalah bahwa Al Qur’an telah meletakkan di hadapan orang-orang yang beriman (laki-laki atau wanita) berbagai contoh teladan dari para ummahat shalihat, yang mempunyai pengaruh dan peran penting di dalam sejarah keimanan.Di antaranya adalah ibu dari Nabi Musa yang memenuhi seruan wahyu Allah dan llham-Nya, lalu melemparkan buah hatinya ke dalam lautan dengan penuh ketenangan dan percaya penuh terhadap janji Rabb-nya. Allah berfirman:“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul.” (Al Qashash: 7)Dan ibunya Maryam yang bernadzar ingin mempunyai anak yang ikut membebaskan “Baitul Maqdist” karena Allah, bersih dari segala bentuk kemusyrikan atau ‘ubudiyah kepada selain-Nya. Ia berdoa agar Allah berkenan menerima nadzarnya itu, Allah SWT berfirman:“(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernadzar kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali ‘Imran: 35)Maka ketika anak yang baru lahir itu ternyata perempuan di luar harapan yang diinginkan, ia tetap dalam kesetiaan untuk memenuhi nadzarnya, sambil memohon kepada Allah SWT agar Allah melindunginya dari segala keburukan, Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari syetan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran: 36)Maryam puteri Imran itu adalah Ibunya Al Masih yang telah dijadikan oleh Al Qur’an sebagai lambang kesucian dan ketaatan kepada Allah serta meyakini kalimat-kalimat-Nya. Allah SWT berfirman:“Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (At-Tahrim: 12)

WAJIBNYA BERBAKTI DAN HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA Oleh

WAJIBNYA BERBAKTI DAN HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

Oleh
       Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an agar berbakti kpd kedua orang tua. Mengenai wajib seorang anak berbakti kpd orang tua, Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24.
“Arti : Dan Rabb-mu telah memerintahkan kpd manusia janganlah ia beribadah melainkan ha kpdNya dan hendaklah beruntuk baik kpd kedua orang tua dgn sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari kedua atau kedua-dua telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kpd kedua ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]
“Arti : Dan katakanlah kpd kedua perkataan yg mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua dgn penuh kasih sayg. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku saygilah kedua sebagaimana kedua menyaygiku di waktu kecil” [Al-Isra : 24]
Juga An-Nisa ayat 36.
“Arti : Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dgn sesuatu, dan beruntuk baiklah kpd kedua ibu bapak, kpd kaum kerabat kpd anak-anak yatim kpd orang-orang miskin, kpd tetangga yg dekat, tetangga yg jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguh Allah tdk menyukai orang-orang yg sombong dan membanggakan dirinya” [An-Nisa : 36]
Juga terdpt dalam surat Luqman ayat 14-15.
“Arti : Dan Kami perintahkan kpd manusia agar beruntuk baik kpd orang tuanya, ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah lemah dan menyapih dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kpd-Ku dan kpd kedua orang tuamu. Ha kpd-Ku lah kalian kembali” [Luqman : 14]
“Arti : Dan jika kedua memaksamu mempersekutukan sesuatu dgn Aku yg tdk ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti kedua dan pergaulilah kedua di dunia dgn cara yg baik dan ikuti jalan orang-orang yg kembali kpd-Ku kemudian ha kpd-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kpdmu apa yg kamu kerjakan” [Luqman : 15]
Atau seperti yg tercantum dalam surat Al-Ankabut ayat 8, tdk boleh mematuhi orang tua yg kafir kalau mengajak kpd kekafiran.
“Arti : Dan Kami wajibkan kpd manusia (beruntuk) kebaikan kpd kedua orang tuanya. Dan jika kedua memaksamu untuk mempersekutukan Aku dgn sesuatu yg tdk ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Ha kpd-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kpdmu apa yg telah kamu kerjakan” [Al-Ankabut : 8]
Serta surat Al-Ahqaaf ayat 15-16.
“Arti : Kami perintahkan kpd manusia supaya beruntuk baik kpd dua orang ibu bapaknya, ibu mengandung dgn susah payah, dan melahirkan dgn susah payah (pula). Mengandung sampai menyapih ialah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umur sampai empat puluh tahun, ia berdo’a “Ya Rabb-ku, tunjukilah aku untuk menysukuri nikmat Engkau yg telah Engkau berikan kpdku dan kpd kedua orang tuaku dan supaya aku dpt beruntuk amal yg shalih yg Engkau ridlai, berilah kebaikan kpdku dgn (memberi kebaikan) kpd anak cucuku. Sesungguh aku bertaubat kpd Engkau dan sesungguh aku termasuk orang-orang yg berserah diri” [Al-Ahqaaf : 15]
“Arti : Mereka itulah orang-orang yg Kami terima dari mereka amal yg baik yg telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yg benar yg telah dijanjikan kpd mereka” [Al-Ahqaaf : 16]
Sedangkan tentang anak durhaka kpd kedua orang tua terdpt di dalam surat Al-Ahqaaf ayat 17-20.
“Arti : Dan orang yg berkata kpd kedua orang tuanya, ‘Cis (ah)’ bagi kamu keduanya, apakah kamu kedua memperingatkan kpdku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku ? lalu kedua orang tua itu memohon pertolongan kpd Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu, berimanlah ! Sesungguh janji Allah ialah benar” Lalu dia berkata, “Ini tdk lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu” [Al-Ahqaaf : 17]
“Arti : Mereka itulah orang-orang yg telah pasti ketetapan (adzab) atas mereka, bersama-sama umat-umat yg telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguh mereka ialah orang-orang yg merugi” [Al-Ahqaaf : 18]
“Arti : Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yg telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) apa yg telah mereka kerjakan sedang mereka tdk dirugikan” [Al-Ahqaaf : 19]
“Arti : Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kpd mereka dikatakan), “Kamu telah memhabiskan rizkimu dalam kehidupan duniawi dan kamu telah bersenang-senang dgn maka pada hari ini kamu dibalas dgn adzab yg menghinakan. Karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak, dan krn kamu telah beruntuk fasik” [Al-Ahqaaf : 20]
Sedangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 215
“Arti : Mereka berta kpdmu (Muhammad) tentang apa yg mereka infakkan. Jawablah, “Harta yg kamu nafkahkan hendaklah diberikan kpd ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yg sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yg kamu peruntuk sesungguh Allah Maha Mengetahui” [Al-Baqarah : 215]
Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yg menerangkan tentang wajib berbakti kpd kedua orang tua. Dalam surat Luqman, Allah menyebutkan wajib seorang anak berbakti kpd kedua orang tua dan bersyukur kpd serta disebutkan juga tentang larangan mengikuti orang tua jika orang tua tersebut mengajak kpd syirik.
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta.]
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=358&bagian=0
Sumber Wajib Berbakti Dan Haram Durhaka Kepada Kedua Orang Tua : http://alsofwah.or.id

19 Hadist Nabi Mengenai Wanita

19 Hadist Nabi Mengenai Wanita


1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang
yang penyayang tidak akan sia-sia".

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan..

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takut akan Allah dan orang yang takut akan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak NabiIsmail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya(10. 000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1.000 lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya".

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suami serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku Nabi SAW) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Dari Aisyah r.a., Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Kiriman Email dari Erna Susilowati

Jihad Para Ibu Dalam Pandangan Islam

Jihad Para Ibu Dalam Pandangan Islam


Islam mengajarkan bahwa kaum ibu merupakan fihak yang sangat istimewa dan tinggi derajatnya. Oleh karena itu kita sangat akrab dengan hadits yang menjelaskan keharusan seorang sahabat agar memprioritaskan berbuat baik kepada ibunya. Bahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutkan keharusan tersebut sebanyak tiga kali sebelum beliau akhirnya juga menganjurkan sahabat tadi agar berbuat baik kepada ayahnya. Jadi ibaratnya keharusan menghormati dan berbuat baik seorang anak kepada ibunya sepatutnya lebih banyak tiga kali lipat daripada penghormatan dan perilaku baiknya terhadap sang ayah.
أَخْبَرَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ
قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ
ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ
Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kita juga sangat akrab dengan hadits yang menyebutkan beberapa dosa besar dimana salah satunya ialah durhaka kepada kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ
Dari Anas ia berkata: Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ditanya mengenai dosa-dosa besar, maka beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang-tua, membunuh jiwa dan kesaksian palsu.” (HR Bukhary)

Bahkan di dalam hadits lainnya disebutkan bahwa kedua orang-tua merupakan faktor yang sangat besar mempengaruhi apakah seseorang bakal menuju ke surga ataukah ke neraka. Artinya, perilaku baik seseorang kepada kedua orang-tuanya bakal memperbesar kemungkinannya berakhir di dalam rahmat Allah dan surga-Nya. Sedangkan kedurhakaannya kepada kedua orang-tua bakal memperbesar kemungkinan hidupnya berakhir di dalam murka Allah dan neraka-Nya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
مَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا قَالَ هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ
Dari Abi Umamah ia berkata: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orang-tua atas anak mereka?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Keduanya (merupakan) surgamu dan nerakamu.” (HR Ibnu Majah)
Hal ini sejalan dengan hadits berikut ini: Dari Abdullah Ibnu Amar al-'Ash Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Tirmidzi)
Namun yang menarik ialah ditemukannya hadits yang secara khusus mengungkapkan haramnya durhaka kepada sang ibu. Sedangkan hal ini tidak kita temukan dalam kaitan dengan larangan berlaku durhaka kepada sang ayah. Sudah barang tentu ini tidak berarti bahwa berlaku durhaka kepada fihak ayah dibenarkan. Yang jelas dengan adanya larangan khusus berlaku durhaka kepada fihak ibu cuma menunjukkan betapa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi martabat kaum ibu.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ
Bersabda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Allah melarang kalian durhaka kepada ibu kalian.”(HR Bukhary)
Dalam hadits lain kita juga dapati bagaimana Islam menyuruh menghormati ibu sekalipun ia bukan orang beriman seperti hadits yang diriwayatkan oleh Asma puteri sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut ini:
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ
قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قُلْتُ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Asma binti Abu Bakar berkata: “Telah datang kepadaku ibuku dan dia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Maka aku datang kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam meminta fatwa beliau. Aku bertanya kepada beliau: ”Telah datang kepadaku ibuku sedangkan ia punya suatu keperluan. Apakah aku penuhi permintaan ibuku itu?” Maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Iya, penuhilah permintaan ibumu itu.” (HR Bukhary)
Mengapa kaum ibu sedemikian diutamakan? Karena mereka adalah fihak yang sejak masih mengandung anak saja sudah merasakan beban memikul tanggung-jawab membesarkan anak-anaknya. Mereka adalah pendamping, penyayang, pengasuh dan pengajar pertama dan utama bagi seorang anak. Ibu adalah fihak yang paling banyak direpotkan oleh anak semenjak mereka masih kecil. Begitu lahir anak menuntut air susu ibunya. Keinginan minum ASI seringkali tidak pandang waktu. Bisa jadi seorang ibu di tengah malam ”terpaksa” bangun mengorbankan waktu istirahatnya demi menyusui buah hatinya.

Seorang ibu juga direpotkan ketika anaknya ngompol dan buang air besar. Ibulah yang biasanya harus mencebok dan membersihkan anaknya. Semakin ikhlas seorang ibu mengerjakan semua aktifitas tadi maka semakin melekatlah si anak kepada dirinya. Di balik segala kerepotan tadi sesungguhnya terjalinlah ikatan hati yang semakin kokoh antara ibu dan anak. Itulah sebabnya ketika seseorang sudah dewasa sekalipun, tatkala dalam kesepian tidak jarang rasa rindu akan belaian tangan ibunya yang penuh kasih sayang terkenang kembali.
Dalam pepatah Arab ada ungkapan berbunyi Al-Ummu madrasah (ibu adalah sekolah). Benar, saudaraku. Seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Ibulah yang pertama kali mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak. Apalagi di zaman penuh fitnah seperti sekarang dimana al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran/ perang budaya/ perang ideologi) datang menyerbu rumah-rumah kaum muslimin. Serbuan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa dari televisi, internet, facebook, buku bacaan, komik, majalah, nyanyian, musik, pergaulan bahkan dari sekolah formal...! Maka kehadiran seorang ibu yang memiliki wawasan pengetahuan luas menjadi laksana penjaga benteng terakhir bagi anak-anaknya. Ibulah yang bertugas membentengi, memfilter dan mengarahkan anak-anak menghadapi berbagai serbuan perang budaya tadi.
Di masa kita dewasa ini saat mana faham ateisme, materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme begitu dominan mewarnai kehidupan masyarakat dunia, maka kehadiran seorang ibu sendirian mendampingi anak-anaknya kadang dirasa kurang memadai. Sehingga kerjasama antara ayah-mukmin dan ibu-mukminah sangat diperlukan. Dalam dunia modern anak-anak kita sangat perlu pengarahan yang sangat kokoh dan kompak dari kedua orang-tuanya sekaligus untuk meng-counter serangan musuh-musuh Islam yang pengaruh buruknya semakin hari semakin hegemonik.

Betapapun, seorang ayah tidak mungkin diharapkan untuk terus-menerus berada di rumah karena tuntutan mencari ma’isyah (penghasilan) bagi anak-isterinya. Oleh karenanya kehadiran dan keaktifan peran seorang ibu di rumah mendampingi anak-anaknya menjadi sangat strategis. Oleh karenanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyetarakan hadir dan aktifnya seorang ibu mendampingi anak-anaknya di rumah dengan aktifitas jihad fi sabilillah yang dilakukan oleh kaum pria di medan perang menghadapi musuh-musuh Allah.
عن أنس، رضي الله عنه، قال: جئن النساء إلى رسول الله
صلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله، ذهب الرجال
بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك به
عمل المجاهدين في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"من قعد -أو كلمة نحوها -منكن في بيتها فإنها تدرك
عمل المجاهدينفي سبيل الله".
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar)
Wahai kaum ibu, ikhlaslah dan sabarlah menjaga pos jihad kalian. Didiklah generasi masa depan calon-calon mujahidin dan mujahidat fii sabilillah harapan ummat....!

double o - Don say that,if you want..


Don say that,if you want..


You…
 C#m
Far away from me anytime you want ..
Em                          D                    G         
Antything you need,anymore you make me sick and so sick ..
   D                                   G                                   C#m
REEF:
Don’t come here if you just want saying goodbye…
A                            C#M              D                   DM
Don”t come here if you just want give last your smile .
A                            C#M              D                   B#M

Don’t come here ,don”t came here …
A                      G       A                      D
Causues it’s just make me felt so sicknees..
Em                           D                           C#M

Its over now..
C#M
Its jus begun for me and you .
Em                          D                    G         

But suddenly you come again and again
D                                   G                                   C#m


Bridge :
Just saying that ,just hurt my heart,just make me apart, again and again ,,,
Em                                                          A                             D                             B#m

KEMISKINAN





           KEMISKINAN


A.   KEMISKINAN
                  Indonesia memang Negara yang cukup kaya sumber daya alamnya,namun di samping itu lihatlah ,masih terdapat banyak kemiskinan kemiskinan yang terjadi pada setiap daerah daerah di Indonesia.Contohnya di Jakarta,banyak orang miskin yang hanya dapat tidur di kolong jembatan beralaskan serobek kardus dan di selimuti Koran.kira kira apa penyebabnya ?marilah kita simak bacaan ini.
        Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta  tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang (LDCs), tidak terkecuali di Indonesia.

I.             JENIS-JENIS KEMISKINAN DAN DEFINISINYA

Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan. Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif, sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut
v  Kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan didalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.
v  Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan dibawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi.

II.           FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN

Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan
§  Tingkat dan laju pertumbuhan output
§  Tingkat upah neto
§  Distribusi pendapatan
§  Kesempatan kerja
§  Tingkat inflasi
§  Pajak dan subsidi
§  Investasi
§  Alokasi serta kualitas SDA
§  Ketersediaan fasilitas umum
§  Penggunaan teknologi
§  Tingkat dan jenis pendidikan
§  Kondisi fisik dan alam
§  Politik
§  Bencana alam
§  Peperangan


III.          KEBIJAKAN ANTIKEMISKINAN
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya tinggi.
Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
1.      pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
2.      Pemerintahan yang baik (good governance)
3.      Pembangunan sosial

Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
                                                                 a.     Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
                                                                 b.     Intervensi jangka menengah dan panjang
o   Pembangunan sektor swasta
o   Kerjasama regional
o   APBN dan administrasi
o   Desentralisasi
o   Pendidikan dan Kesehatan
o   Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan