Pages

Jumat, 19 Oktober 2012

Perbedaan Akuntansi Keuangan Syariah vs Akuntansi Keuangan Konvensional




Bismillah.
Alhamdulillah akuntansi syariah sudah mulai dikenal oleh banyak orang yang memang update dengan bidang akuntansi.
Arti muhasabah (akuntansi) dalam Islam lebih umum dan lebih luas jangkauannya, yang meliputi perhitungan dari segi moral dan juga perhitungan akhirat. Dalam prakteknya setiap aktivitas mu’amalah adanya unsur pertanggungjawaban (responsibility) dari hubungan vertikal (hubungan antara manusia dengan Allah SWT/ hablun-minallah) dan hubungan horizontal (hubungan sesama manusia/ hablun-minannas)
            Diantara tujuan-tujuan terpenting dari akuntansi  keuangan dalam Islam adalah menjaga harta yang merupakan hujjah atau bukti ketika terjadi perselisihan, membantu mengarahkan kebijaksanaan, merinci hasil-hasil usaha untuk penghitungan zakat, penentuan hak-hak mitra bisnis, dan juga untuk membantu dalam menetapkan imbalan dan hukuman serta penilaian evaluasi kerja dan motivasi. Sementara tujuan akuntansi keuangan  konvensional diantaranya untuk menjelaskan utang dan piutang, untung dan rugi, sentral moneter, dan membantu dalam mengambil ketetapan-ketetapan manajemen.
            Jelaslah bahwa ada beberapa segi persamaan dalam beberapa tujuannya. Ini menunjukkan keutamaan Islam yang lebih dulu meletakkan dasar-dasar pokok akuntansi. Hanya saja, akuntansi syariah lebih difokuskan untuk membantu individu-individu dalam mengaudit transaksi-transaksinya, dan juga untuk membantu kelompok masyarakat untuk melakukan muhasabah yang ditangani oleh seorang hakim. Bahkan lebih dari itu, akuntansi juga bisa membantu dalam lapangan dakwah kepada kebaikan, seperti amar ma’ruf nahi mungkar. Semua itu tidak terdapat dalam akuntansi konvensional.

3.    Perbedaan dari Karakteristik
            Akuntansi dalam Islam berdasarkan pada nilai-nilai akidah dan akhlak. Maka, sudah menjadi tugas seorang akuntan untuk memberikan data-data dalam membantu orang-orang yang bersangkutan tentang sejauh mana hubungan kesatuan ekonomi dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum syariat Islam dalam bidang muamalah. Seorang akuntan muslim selalu sadar bahwa ia bertanggungjawab dihadapan Allah tentang pekerjaannya, dan ia tidak boleh menuruti keinginan pemilik modal (pemilik proyek) kalau ada langkah-langkah penyelewengan dari hukum Allah serta memutarbalikkan fakta (data yang akurat). Aspek-aspek ini tidak kita dapati dalam konsep akuntansi konvensional
            Berdasarkan  ini kita ketahui bahwa akuntansi syariah didasarkan pada kaidah-kaidah yang permanen, yang diambil dari sumber-sumber  hukum Islam yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Adapun konsep akuntansi konvensional didasarkan pada ordonansi atau peraturan-peraturan dan teori-teori yang dibuat oleh manusia yang memiliki sifat khilaf, lupa, keterbatasan ilmu dan wawasan. Maka, konsepnya itu labil dan tidak permanen serta memiliki kecenderungan berubah-ubah dari waktu ke waktu mengikuti perubahan system ekonomi, perubahan peraturan, perubahan jenis perusahaan dan perubahan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh manusia. Aliran utama akuntansi barat ini telah dikritik sepertinya tidak cukup digunakan untuk mencapai tujuan ekonomi Islam (Hameed, 2000; Adnan dan Gaffikin, 1997; Iwan Triyuwono, 2000). 


Oleh: Siti Murtiyani, SE.M.Si.,Akt

       
Perbedaannya jika menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut:

Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan.
Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas;
Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar)
sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang;

Dalam konsep Islam
, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;

Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, 
sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko;
Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram.
Sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal.

Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, 
sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.
    Dengan dikeluarkannya PSAK 59 yang terdiri dari Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syariah serta Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Akuntansi Perbankan Syariah yang merupakan standar tehnis dalam pencatatan, penyajian, pelaporan, pengungkapan (disclosure), pengakuan segala transaksi yang berkaitan dengan kegiatan keuangan suatu bank syariah. Memang kedua standar ini banyak mengadopsi kerangka dan standar yang dikeluarkan oleh Accounting and Auditing Organizations for Islamic Financial Institutions (AAOIFI, 1998) yang berpusat di Manama Bahrain. Kalau kita cermati lebih dalam kedua standar ini juga mengacu dari kerangka akuntansi konvensional. Hal ini wajar saja, karena disiplin akuntansi Islam sebagai ilmu yang sudah mapan belum bisa terwujud, sehingga berbagai paradigma masih tetap menggunakan konsep akuntansi konvensional yang dinilai belum sepenuhnya seirama dengan sifat dan nilai-nilai syariat yang kita yakini.
sumber :

Jumat, 12 Oktober 2012

Downloads softcopy PSAK Syariah

Bagi anda yang ingin mendownloads PSAK 101-106 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
  1. PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah
  2. PSAK 102: Akuntansi Murabahah
  3. PSAK 103: Akuntansi Salam
  4. PSAK 104: Akuntansi Istishna’
  5. PSAK 105: Akuntansi Mudharabah
  6. PSAK 106: Akuntansi Musyarakah
File silakan Download PSAK 101-106

Rabu, 10 Oktober 2012

Haruskah Menjadi Pengusaha?



            Enterpreneur,siapa yang tidak kenal dengan istilah yang satu ini.Banyak orang yang menjadi orang kaya lewat enterpreneur.Memang menjadi pengusaha tidaklah mudah harus mengorbankan hal yang kadang amat sulit dikorbankan,membagi waktu,memutar otak ngalor-ngidul namun inilah asiknya jadi seorang pengusaha.Dalam keseharian seorang pengusaha bekerja dan berfikir untuk selalu mengembangkan usahanya,takayalnya sebuah pisau yang sedang diasah pada batu,rasanya sakit.Tapi kala ia tetap bertahan ia akan menjadi pisau yang sangat tajam,kuncinya hanya satu sadar,sabar dan semangat.Sadar kalau rasa sakit ini hanya sementara dan kemenangan sudah didepan mata.Sabar karena sakitnya memang sakit sungguh-sungguh,rugi,lelah,mengorbankan waktu namun yakin pasti ini untuk kebaikan.Semangat yang membara akan menambah rasa percaya diri dan pikiran positif datang sehingga memperlancar pekerjaan si pengusaha tersebut.Taukah anda bahwa pengusaha kini bukan hanya menjadi hak orang tua saja?yap,banyak pengusaha muda saat ini.Bagaimana bisa?kapan dia memulai itu semua?
            Menjadi pengusaha bukan seperti membuat mie instan,masak air,mendidih,masukan mie,matang,angkat lalu selesai.Pengusaha harus kuat mental,tahan malu,berani rugi,banyak relasi.Hal ini tentunya harus mulai diperhatikan sedini mungkin bagi kaula muda agar para pemuda ini bisa mempunyai mental baja dan relasi yang banyak.Namun bagaimana kondisi yang terjadi saat ini?Hampir semua penduduk bumi pemudanya kini menjadi pengusaha,pengusaha cinta yang mengejar-ngejar cinta orang lain.Kondisi ini sangat memprihatinkan,bagaimana tidak,pacaran akan menutup mata mereka dengan finansial,mereka lebih boros,waktunya terbuang sia-sia bahkan menutup dirinya untuk memperbuat hal-hal pembelajaran menjadi pengusaha karena dasar malu dan gengsi.
Banyak faktor yang menyebabkan pemuda seperti mahasiswa-mahasiswa yang enggan mengasah jiwa pengusaha mereka saat ini.Saya ingin bekerja diperkantoran hal ini banyak saya temukan pada mahasiswa yang memang berorientasi mejadi karyawan sebuah perusahaan kecil maupun besar yang ternama,cita-cita ini baik.Namun alangkah baiknya apabila menjadi seorang karyawan namun mempunyai penghasilan tambahan yaitu menjadi pengusaha sampingan.ah malu,saya gengsi jualan begitu” loh kenapa harus malu,yang anda jual adalah barang yang halal ketika anda menjual barang haram barulah anda boleh malu.”Untungnya sedikit sob” Mustahil anda bisa kaya kalau anda hanya profit oriented,banyak pengusaha yang awalnya mau gagal terlebih dahulu agar menjadi bekal pembelajaran dimasa yang akan datang,untuk hasil pendapatan yang sedikit atau rugipun adalah hal biasa,karena mereka lebih mengedepankan pengalaman terlebih dahulu dibandingkan laba.”Jualan?kaya orang tidak mampu?”  Apakah anda sudah merasa mampu dengan biaya kuliah yang masih ditanggung orang tua,biaya ongkos,jajan,bahkan pacaranpun dengan uang dari orang tua?Apakah itu yang anda katakan mampu? Jualan akan membuat otak kita bekerja lebih cepat dan membuat otak kita nalar akan masalah tertentu.Selain itu kemandirian akan terbentuk dengan sendirinya,hal ini sangat baik bagi pemuda yang sedang berapi-api menjalani kehidupannya.nukankah bangga ketika engkau katakan,”mah terimakasih untuk uang jajannya,simpan saja uang ini untuk mama pergi haji,Alhamdulillah saya sudah mempunyai pengahsilan walau hanya untuk jajan sehari-hari.”Ah ribet jualan begitu mah” tidak mau ribet? Yasudah jadi pengangguran saja,toh menjadi dosen,karyawan dan pengusaha sama ribetnya.
            Menjadi seorang pemuda kita haruslah kaya,bila melihat kondisi masyarakat kita yang mejemuk ini kita akan temkan orang-orang miskin yang ”memanggil nama kita” untuk dimintai pertolongan.Lantas apakah menjadi karyawan akan dapat membantu mereka? Dengan gaji yang pas untuk anda dan keluarga anda,apakah anda mampu menanggung perut-perut mereka yang lapar?membuat lembaga pendidikan gratis untuk mencerdaskan bangsa?Tidak,anda harus bisa mendapatkan penghasilan lebih untuk dialokasikan kepada ummat ini,janganlah menjadi egosi dan berkata”yang penting cukup buat keluarga gue makan.” Mualilah bangun kehidupanmu selagi muda dengan menjadikan kamu kaya dimasa depan agar dapat membantu orang disekitar anda.
            Banyak cerita yang anda harus pahami mengapa menjadi pengusaha itu penting,kerabat saya seorang mahasiswa di perguruan swasta awalnya berjualan combro dikampusnya.Malukah dia? Tidak.Beliau sadar ini adalah tahap menjadi pengusaha.Hilangkan gengsi dan pikirkanlah ummat ini.Maka tidak ada salahnya ketika engkau masih duduk dibangku sekolah atau kuliah,engkau mulai coba menjadi pengusaha dengan cara menjual barang-barang kebutuhan kuliah,makanan hingga pakaian sekalipun.


Semoga bermanfaat,Salam perjuangan.
(Santoso Permadi-UG-26210365)

Tulisan saya ini saya publikasikan juga pada akun kompasiana saya http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/10/10/terus-gue-harus-jadi-pengusaha-gitu/

Sabtu, 11 Agustus 2012

Setiap kebahagiaan,tentu ada yang berkorban.

Ini hanya sedikit tulisan pelajaran yang saya tangkap dari peristiwa disekitar saya.Dimana setiap ada kebahagiaan disitu pasti telah ada yang telah berkorban.
Pada hari ahad itu kami (Sharia Economic Forum)SEF mengadakan “Rapat Kerja” untuk setahun kedepan,dimana juga kami membutuhkan alat pembantu yakni layar dan infokusnya.
Kebetulan saudari kami yang bernama Kak Nur Azifa mempunyai layar dan infokus,tapi dengan ketentuan mengambil sendiri kerumahnya jika ingin meminjamnya.Bayangkan betapa beratnya layer itu?apalagi jika memakai motor,pasti sangat berat memanku layer itu.Apalagi jarak yang ditempu lumayan jauh dari citayam ke kelapa dua.hmmm terbayang pegalnya.
Namun atas dasar cinta,kedua pemuda hebat ini berkorban untuk berlangsungnya acara raker ini dengan menggunakan infokus dan layer,karena jika tanpa kedua barang ini kami cukup kesulitan ketika menjelaskan dan memaparkan raker.
Memang penorbanan adalah bentuk kasih saying agar orang lain merasa mudah dan bahagia yah..
Hmm..Saya berterimakasih kepada kedua jagoan hebat ini yang berinisial II dan GMY
:


Barakallahu fik saudaraku :D
Jzk.